You are here:

Home
Ups! Kok Si Kecil Mengamuk PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 29 May 2014 00:00

Pernah melihat anak kecil menangis menjerit-jerit, dan susah ditenangkan? Mungkin buah hati anda pun pernah mengalami hal itu. Misalnya, saat ia minta sesuatu dan tidak dituruti, sehingga membuatnya menangis, bahkan sampai berguling-guling.

Melihat itu, orang tua mana yang tidak kesal. Tak heran bila kerap mereka memarahi, mencubit dan bahkan memukulnya. Padahal tindakan itu justru membuat tangisan anak makin menjadi-jadi. Menangis hingga menjerit-jerit secara tiba-tiba atau disebut temper tantrum, sebenarnya merupakan hal biasa bagi anak usia 2.5 - 5 tahun. Letupan amarah seperti itu terjadi saat anak mulai menunjukkan kemandirian dan sikap negatifnya. Banyak hal yang bisa menyebabkan anak menjadi ngamuk. Diantaranya adalah:

  1. Belum bisa kontrol emosi - Anak usia 2 - 5 tahun memang belum bisa mengontrol emosi, sehingga cenderung mudah marah. Beberapa anak juga mempunyai sifat emosional. Mereka cenderung tidak sabaran, meski hanya karena hal-hal kecil.
  2. Kelelahan - Kelelahan akan membuat anak mudah marah dan kesal. Apalagi, pada usia 2 - 5 tahun, anak memang belum bisa mengendalikan emosinya, sehingga marahnya meledak. Kemarahan itu akan semakin menjadi, bila ia merasa orang tua selalu membandingkan dengan orang lain, atau memiliki tuntutan yang tinggi pada anaknya. Sementara bila menginginkan sesuatu selalu ditolak dan dimarahi.
  3. Frustasi - Jangan dikira hanya orang dewasa saja yang bisa frustasi. Balitapun bisa mengalaminya. Misalnya marah karena tidak bisa mencapai sesuatu yang mereka inginkan. Jadi, karena frustasi tidak dapat mendapatkan yang diinginkannya, akhirnya kemarahannya meledak.
  4. Terlalu dikekang - Orang tua yang terlalu banyak mengekang dan mendikte juga akan berpengaruh pada emosi anak. Ia akan merasa jenuh dengan kekangan orang tua, hingga suatu saat akan mencapai titik kejenuhan dan akhirnya marah-marah.
  5. Orang tua tidak konsisten - Orang tua yang tidak konsisten dalam mendidik anaknya, juga bisa membuat anak marah dan mengamuk. Kadang orang tua bilang A pada anaknya, tapi saat anaknya menangis orang tua bilang B. Dan ketika ia menangis lebih keras lagi, orang tua bilang C. Hal ini akan membuat anak berpikir, bila ia menangis atau mengamuk, akan dapat mengubah sikap dan perasaan orang tuanya, sehingga mau menuruti apa yang ia inginkan. Ingat, jangan meremehkan balita, mereka jauh lebih pintar dari yang kita bayangkan.

Tetap Tenang

Ketika anak mengamuk, usahakan agar emosi anda tidak terpancing, sehingga malah akan memperburuk keadaan. Orang tua sebaiknya tetap tenang, jangan menimbulkan reaksi berlebihan. Tetap diam di dekat si kecil dengan sikap tenang justru akan membuat anak berhenti mengamuk. Bila emosi mulai terpancing, disarankan agar anda menghindar terlebih dahulu. Sebab, saat emosi, seseorang bisa melakukan tindakan yang justru akan menyakiti anak, seperti mencubit dan memukul. Bila anak terbiasa diberi hukuman fisik, ia akan menjadi kebal dan cenderung menjadi anak nakal. Kalaupun memberi hukuman, sebaiknya jangan memberikan hukuman fisik, tapi hukuman lainnya. Misalnya tidak memberikan sesuatu yang disenanginya. Dengan begitu, anak akan berpikir lebih jauh bila hendak mengamuk. Setelah emosi stabil, panggil si kecil. Berikan pengertian kenapa mama marah. Bicaralah dengan nada lembut tetapi tegas, tanpa berteriak. Sebab, jika orang tua berteriak, anak akan berteriak lebih keras lagi.

Cara Meminimalkan

Selain memberikan pengertian, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalkan anak yang mengamuk, yaitu:

  • Alihkan perhatian - coba alihkan perhatiannya. Misalnya, dengan mengajaknya bermain permainan lama yang lama tidak dilakukan, mendengarkan lagu-lagu gembira atau melucu.
  • Beri perhatian - Beri sentuhan lembut agar anak merasa diperhatikan. Jangan meninggalkannya sendiria, karena akan membuatnya semakin frustasi. Rasa galau atau frustasi anak bisa saja karena ia merasa diperhatikan. Karena itu, dekati anak. Bila mungkin gendong dan peluk dia untuk membuatnya tenang. Tapi, kalau emosi terpancing, sebaiknya tinggalkan anak terlebih dahulu untuk menenangkan hati anda.
  • Tunjukkan empati - Tunjukkan empati bahwa orang tua juga mengerti perasaan anak. Misalnya, dengan mengatakan, "Bunda tahu, tidak enak bila tidak bisa mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Jika bunda sudah ada uang, pasti akan bunda belikan".

Waspadai!!

Mengamuk (temper tantrum) memang normal pada usia 2 - 5 tahun. Setelah usia 5 tahun, saat anak mulai sekolah dan bergaul dengan teman sebayanya, anak akan dapat mengatasi gejolak emosinya. Sesekali mungkin akan marah, tapi mereka lebih bisa menahan diri. Namun, apabila anak ternyata masih suka mengamuk, kemungkinan besar ia bermasalah dengan emosinya. Bisa jadi, masalah tersebut terjadi karena ia kesulitan belajar atau bergaul dengan lingkunganya. Jika itu terjadi, sebaiknya segera konsultasikan dengan ahlinya. Selain itu, waspadai juga bila anak mengamuk setiap hari, dan tidak kooperatif untuk hal-hal rutin, seperti memakai baju, mandi dan sebagainya.

 

 

 

 

 

Last Updated on Friday, 30 May 2014 08:26
 
  • olalababy.jpg
  • thermometer 2.jpg