You are here:

Home
Si Kecil Punya Musuh Bebuyutan PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 10 September 2015 00:00

Di usia prasekolah, gesekan dengan teman yang karakternya bertentangan semakin sering terjadi. Namun, betulkah anak punya musuh bebuyutan?

Michiel sedang menyusun puzzle buah yang terbuat dari kayu. Keping demi keping ia susun. Tiba-tiba datang Ethan, teman sebayanya yang tinggal di seberang rumahnya. Ia langsung bergabung dengan Michiel menyusun puzzle. Awalnya mereka kompak, saling membantu menyempurnakan bentuk buah stroberi di papan puzzle ya. Tetapi tidak berapa lama kemudian terjadi pertengkaran. Michiel bersikeras bahwa ia yang harus meletakkan keping puzzle terakhir.

Begitu pula dengan Ethan. Mereka pun saling berebutan, disusul dengan saling dorong, Jambak dan pukul. Mama kemudian saling menengahi, ia berusaha memisahkan Michiel dan Ethan yang semakin panas bertengkar. "Sudah jangan bertengkar!" Seru sang Mama. "Kalian itu kalau bermain pasti bertengkar!" Mama memarahi keduanya.

Michiel dan Ethan pun diam, tetapi mereka masih belum bisa menghilangkan kekesalannya. Tiba-tiba Ethan bergerak cepat. Ia mengambil kepingan puzzle terakhir yang di genggam Michiel. Michiel pun tidak mau kalah, ia langsung menarik baju Ethan. "Itu puzzleku, kembalikannn!" teriak Michiel. Pertengkaran yang sempat terhenti pun dimulai kembali.

"Haduh!, kalian memang tidak pernah akur ya!" Kata Mama Michiel kesal. Ia merengkuh tubuh Michiel supaya menghentikan jam akarnya dan meminta Ethan menjauh. Tetapi pertengkaran mereka tidak berhenti. Michiel dan Ethan kini "perang" mulut. Keduanya merasa yang paling berhak meletakkan kepingan puzzle yang terakhir. "Aku yang taruh kepingannya!" Seru Ethan. "Ini puzzleku, aku dong yang letakin!" Protes Michiel. "Sudaaaahhh, Semuanya diam. Mama yang letakin puzzle ya." "Heran Deh, kenapa sih kalau kalian main ujung-ujungnya selalu berantem kayak musuh bebuyutan gitu." Ucap Mama sambil meletakkan kepingan puzzle.

 

Keras Kepala

Kala bermain, kadangkala si kecil bertengkar. Ini wajar mengingat sifat egosentrisnya masih tinggi sementara ia belum bisa mengelolanya dengannya baik. Hal kecil saja, bisa memicu terjadinya pertengkaran. Seperti yang dialami Michiel dan Ethan. Hanya karena hal yang menurut kita sangat sepele, yaitu meletakkan kepingan puzzle yang terakhir sehingga kemudian sampai membuat Mama turun tangan untuk melerai mereka. Tetapi bagaimana jika ia bertengkar dengan orang yang sama setiap hari? Michiel selalu bertengkar dengan Ethan. Padahal temannya tidak hanya Ethan, ada Ronald, Andrew, Aisha dan lainnya. Padahal jika bermain dengan mereka jarang sekali terjadi perselisihan. Inilah yang membuat sang Mama menjuluki mereka berdua sebagai musuh "bebuyutan". Pertengkarannya yang selalu terjadi dengan orang yang sama perlu dicermati agar dapat diantisipasi dan ditangani dengan baik.

Namun meskipun anak kerap bertengkar dengan orang yang sama setiap hari atau sehari 2 sampai 3 kali, sebenarnya tak ada istilah musuh "bebuyutan" dalam kamus anak-anak. Mereka bertengkar karena ada beberapa faktor yang kebetulan menjadi pemicu cukup besar terjadi di antara mereka. Sebutan musuh "bebuyutan" merupakan ungkapan yang kita berikan. Padahal anak-anak tidak paham apa arti dari ungkapan itu. Kalaupun mereka ikut-ikutan menyebut, itu hanyalah sebuah peniruan dari apa yang pernah kita ucapkan. Karena itu, orang tua sebaiknya lebih berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu di depan anak-anak. Karena anak-anak ibarat Spon kering, yang siap menyerap informasi apa saja di depannya.

 

Pemicu Pertengkaran

Berikut ini adalah beberapa faktor yang kerap membuat anak bertengkar. Dengan mengenali faktor-faktor ini kita bisa menghindari terjadinya pertengkaran.

  • Karakter - Dua anak sama-sama memiliki karakter yang keras kerap menjadi pemicu pertengkaran. Misalnya Michiel dan Ethan sama-sama keras kepala, tidak mau mengalah, ingin menang sendiri, selalu ingin menguasai, tak mustahil setiap kali mereka bermain akan terjadi pertengkaran. Pemicu utamanya biasanya karena mereka memperebutkan sebuah benda, tidak ingin dirinya dikalahkan, atau ada kata-kata atau perbuatan yang tidak disenangi dan lainnya. Kala dua anak dengan karakter keras bermain, selalu ingatkan mereka untuk bermain bersama-sama. Tidak boleh rebutan mainan, saling mengejek, menyakiti apalagi bertengkar. Setidaknya kita sudah memberi peringatan kepada anak apa yang perlu ia lakukan dan hindari. Kala ia bermain sebaiknya kita pantau dan amati apakah ia tetap bermain bersama dengan baik atau tidak. Jika muncul gelagat perselisihan segera ingatkan mereka untuk tidak bertengkar. Jika tak berhasil segera pisahkan mereka dan jauh akan mereka sebelum "perang dunia ketiga" meletus. Alihkan ke haluan yang menarik perhatiannya sehingga keributan dapat terhindari.
  • Pola Asuh - Pola asuh yang salah di rumah dapat menciptakan anak yang hanya mau di perhatikan, tidak mau memperhatikan orang lain. Contohnya, di rumah ia menjadi "raja/ratu kecil" yang apapun keinginannya selalu terpenuhi, selalu di layani, ingin sesuatu tinggal tunjuk, semua orang yang di rumah "tunduk" padanya, dan ia menjadi pusat perhatian seluruh orang rumah dengan berbagai kemanjaan. Tak mustahil kala bermain ia pun minta di "istimewakan" oleh teman-temannya. Jika ia bermain dengan teman yang pengalah mungkin tidak terlalu bermasalah. Bagaimana jika ia bermain dengan anak yang Setipe dengannya? Pertengkaran sangat mungkin terjadi. Tak mustahil setiap mereka bermain akan terjadi perselisihan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki pola sih. Jangan terlalu memanjakannya, membuatnya menjadi satu-satunya pusat perhatian dan lainnya. Beri anak kesempatan untuk mandiri, ikut memperhatikan orang lain dan diperlakukan sama dengan adik atau kakaknya. Kala ia akan bermain, persiapkan mentalnya untuk tidak berlaku sesukanya contoh dengan mengingatkan supaya ia bermain bersama-sama, tidak boleh berselisih, bertengkar dan lainnya.

Hindari Pelabelan

Apapun penyebab pertengkaran antar anak, jangan sampai memancing emosi orang tua dan memberinya label atau julukan musuh atau "musuh bebuyutan" kepada Anak maupun temannya. Karena malah akan menguatkan perilaku anak untuk melakukan perselisihan dengan temannya itu. Dia akan mempersepsikan jika temannya itu adalah musuh yang harus dilawan. Jika temannya melakukan sedikit kesalahan dan kebetulan anak tidak menyukainya maka ia bisa membesar-besarkan ya dan terjadilah pertengkaran.

Pelabelan pun berdampak negatif pada psikologis anak. Ia merasa permusuhannya disetujui sehingga boleh melakukan pertengkaran, terutama dengan musuh bebuyutannya itu. Dikhawatirkan perilaku bermusuhan ini juga diarahkan kepada teman-temannya yang lain karena ia merasa mendapat angin.

 

Tak Perlu Menyalahkan

Yang sebaiknya dilakukan orang tua adalah membetulkan perilaku anak yang negatif. Bagaimana caranya? Tentu dengan sabar memberikan penjelasan berulang-ulang bahwa bertengkar merupakan hal yang tidak baik. Tekankan padanya, pertengkaran hanya akan menuai musuh, namun dengan bersedia saling bekerja sama dengan teman, saling berbagi, ia akan mendapatkan lebih banyak sahabat. Dengan nasihat yang konsisten lambat laun anak akan mengubah perilakunya.

Kitapun perlu melakukan kerja sama dengan orang tua yang anaknya kerap bertengkar dengan anak kita atau dengan pihak sekolah apabila "musuh bebuyutannya" ada di sekolah. Duduklah bersama, kemukakan masalah pada perilaku anak. Mungkin kita perlu mengoreksi diri jika dalam mengasuh anak telah melakukan kekeliruan. Lalu bekerjasamalah dengan orang tua lain untuk mengarahkan anak masing-masing menjauhi pertengkaran.

Sedangkan pada pihak sekolah, orang tua dapat meminta bantuan untuk memantau perilaku anak di sekolah dan menjelaskan bahwa pertengkaran tak baik dilakukan.

 

Jangan Larang Bermain

Beberapa orang tua mungkin mengambil jalan pintas dengan melarang si kecil bergaul dengan "musuh bebuyutannya" dengan harapan tidak lagi terjadi keributan. Keputusan ini tidaklah tepat, sebab secara tidak langsung kita mengajarkan anak untuk lari dari masalah.

Padahal jika diarahkan dengan benar, dalam bertengkar ada banyak hal yang bisa dipetik manfaatnya. Ia menjadi belajar menahan emosi, mengontrol keinginan, belajar berbagi, belajar bekerja sama, belajar untuk tidak berlaku semaunya, dan sebagainya.

Yang terpenting, jika anak sedang bertengkar, orang tua jangan ikut emosional, ikut menyalahkan, apalagi menghakimi si "musuh bebuyutan" anak. Tanggapan pertengkaran ini dengan bijak. Pahami apa yang mereka lakukan adalah ulah anak-anak yang sedang belajar bersosialisasi, berkembang menuju arah yang lebih dewasa. Jika orang tua ikut ribut-ribut dengan menyalahkan dan menghakimi, maka anak akan merasa besar kepala karena ada yang membela. Bahkan, jika orang tua si "musuh bebuyutan" ikut membela anaknya maka keributan bisa terjadi antar orang tua. Anak bertengkar, itu hal sepele (terkadang hari ini bertengkar, eh besok bisa rukun lagi seolah tidak ada yang terjadi kemarin), tetapi jika sampai melibatkan orang tua, urusannya bisa menjadi panjang. Tentunya anda tidak mau ini terjadi.

Tidak perlu mencari tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang jelas perilaku suka bertengkar harus ditangani dengan baik agar reda dan tidak terulang lagi. Meski anak kita yang dipukul terlebih dulu, dijambak terlebih dahulu, atau didorong dulu, bukan berarti kita boleh menyalahkan dan menghakimi si "musuh bebuyutan"

Demikian juga jika anak kita yang memicu pertengkaran terlebih dahulu, kita tak perlu menyalahkannya. Yang harus dilakukan adalah melerai dan mengarahkan anak untuk tidak melakukan hal yang negatif tersebut.

 

 

 

Last Updated on Thursday, 10 September 2015 05:48
 
  • olalababy.jpg
  • thermometer 2.jpg