You are here:

Home News The Project Mitos - mitos Seputar Perawatan Bayi - Version I
Mitos - mitos Seputar Perawatan Bayi - Version I PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 09 August 2008 08:33

Bayi WAJIB dipakaikan Gurita.

Begitu kata orang tua kita, kebiasaan dalam merawat bayi ini memang sudah turun temurun. Memang tidak sedikit dari kebiasaan tersebut yang bertentangan dengan dunia medis. Bagaimana kita menyingkapinya?

Dalam merawat sang buah hati, hampir dapat dipastikan kita akan "dihujani" berbagai macam nasehat ataupun larangan dari lingkungan sekitar, entah kakek-nenek, atau orang tua, teman-teman, maupun tetangga. Umumnya, nasehat atau larangan tersebut merupakan kebiasaan-kebiasaan praktek perawatan bayi yang sifatnya turun-temurun.

Namun, "seringkali nasehat dan larangan tersebut tidak dapat diterima oleh akal sehat" meskipun ada juga yang kedengarannya masuk akal," Ujar Dr. Eric Gultom, Sp.A dari bagian ilmu kesehatan anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo dalam cara Ibu Bayi dan Balita di Anteve. Misalnya, bayi tidak boleh digendong dengan kedua tungkai memeluk tubuh ibu agar kelak tungkainya tidak bengkok atau melengkung. Begitu pula dengan nasehat untuk membedong bayi agar kelak bentuk kakinya bagus.

Kedengarannya memang  masuk akal bahwa cara mengendong dengan posisi demikian mungkin saja akan menyebabkan pengkar. Apalagi pada kenyataanya, saat lahir, tungkai bayi memang penampilannya bengkok atau melengkung. Tetapi bila dijelaskan dengan cara lain, akan terlihat bahwa penjelasan tersebut tidak masuk akal.

Semua bayi, kakinya memang akan tampak melengkung ketika lahir. Pasalnya, rongga rahim sangat terbatas ruangnya. Nah, agar si bayi cukup dalam rongga rahim, posisinya harus sedemikian rupa sehingga kedua tungkai akan dalam posisi bersila dan melengkung ke atas. Tentunya dalam posisi demikan selama 9 bulan, akan menyebabkan kedua tungkai terlihat bengkok atau melengkung. Selain itu tulangnya juga masih lunak dan sedang bertumbuh sehingga mudah sekali terbentuk melengkung.

Kendati demikian, tungkai yang melengkung ini akan berangsur-angsur lurus kembali sejalan dengan pertumbuhan bayi. Kecuali bila ada faktor genetik dimana salah satu orang tuanya kedua tungkainya tidak lurus atau melengkung, akan diturunkan pada anaknya. Jadi, melengkung tidaknya tungkai tidak tergantung pada posisi ketika mengendong bayi, begitupun bila bayi tidak dibedong, kakinya akan tumbuh lurus sesuai dengan potensi genetik yang dimilikinya.

 

Membahayakan Bayi

Berbagai praktek perawatan bayi yang mengikuti kebiasaan turun-temurun ini, seringkali bukan hanya kurang dapat diterima dasar ilmiahnya. Tetapi bisa juga merugikan. Misalnya, pemakaian gurita untuk bebat perut bayi. Kata orang supaya bayi tidak masuk angin. Ada pula yang bilang agar perutnya tidak besar dan pusernya tidak bodong.

Dalam dunia medis, tidak dikenal istilah "masuk angin". Istilah ini mungkin maksudnya Aerophagia, yaitu bayi banyak udara di lambungnya sehingga terlihat kembung yang disebabkan karena menangis lama atau cara minum susu botol kurang betul. Jadi tidak ada kaitannya dengan pemakaian gurita.

Begitupun dengan perut besar dan puser bodong. Besar kecilnya perut ditentukan dengan ketebalan kulit, lemak kulit dan otot perut yang sanggup menahan daya dorong isi perut atau usus keluar. Secara alamiah, usus kan berusaha mendorong keluar. Nah, pada bayi, kulit maupun lemak dan ototnya masih tipis sehingga belum mampu menahan ususnya yang mendorong keluar. Jadi bayi terlihat seperti kembung, perutnya agak besar. Nanti bila kulit, lemak dan ototnya sudah lebih tebal sehingga mampu menahan daya dorong tersebut, maka tidak akan terlihat gendut lagi, kecuali memang makannya banyak.

Sama halnya dengan pusar bodong, bila perutnya membesar maka pusarnya juga akan menonjol. Namun, tak demikian setelah kulit, lemak maupun ototnya sudah lebih tebal. Jadi, bukan lantaran dipakaikan gurita, maka pusarnya jadi ngak bodong. Jikapun si bayi sampai pusarnya bodong, karena bagian dari puntung tali pusarnya memang sejak awalnya sudah besar. Jadi, sejak lahir pusarnya memang sudah bodong, bukan karena tak dipakaikan gurita.

Pemakaian gurita justru sebetulnya dapat merugikan bayi. Bayi jadi kepanasan dan banyak keringat, sehingga bisa mengalami keringat buntet dibawah lapisan gurita. Selain itu bila pemakaian gurita terlalu ketat, akan mengganggu gerak pernapasan bayi karena bayi bernafas lebih dominan menggunakan gerak pernafasan perut. Jadi kalau kita bebat erat-erat perutnya maka akan mengganggu pernafasannya.

Contoh lain dari kebiasaan-kebiasaan turun temurun lainnya yang membahayakan bayi adalah membubuhkan bahan-bahan tradisional pada tali pusat yang belum puput. Hal ini bisa menimbulkan infeksi. Perawatan tali pusat cukup dengan membubuhkan alkohol 70%. Sebab alkohol 70% telah dapat membunuh kuman dan mencegah kuman berkembang biak, sehingga tali pusat pun terhindar dari infeksi.

Mashi banyak lagi, kebiasaan turun temurun yang membahayakan bayi. Jika anda ragu, tanyakanlah terlebih dahulu kepada dokter anak anda sebelum memulai perawatan. Hal ini jauh lebih baik, daripada terjadi sesuatu di kemudian hari nya kan?

 





Last Updated on Monday, 16 November 2009 06:12
 
  • olalababy.jpg
  • thermometer 2.jpg