You are here:

Home Section Blog News Demam Berdarah saat Hamil
Demam Berdarah saat Hamil PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 11 April 2012 05:19

Demam dengue (DD) merupakan penyakit yang sering kita dengar sehari-hari. Bagi sebagian orang dianggap hal yang biasa saja, tetapi kenyataannya hampir setiap tahunnya menyebabkan wabah di beberapa daerah, seperti halnya di DKI Jakarta. Musim hujan adalah waktu yang tepat nyamuk aedes aegypti berkembang biak dikarenakan banyaknya genangan air hujan, terutama air di tempat bersih. Jika dilihat dari penyebabnya, demam dengue disebabkan virus dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus melalui gigitannya. Aedes albopictus tidak terlalu berperan karena hidupnya di daerah kebun dan semak – semak, sedangkan aedes aegypti banyak hidup di genangan air bersih sekitar perumahan.

 

Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian apabila tidak tertangani dengan baik. Transmisinya melalui nyamuk aedes aegypti, dimana virus masuk ke tubuh nyamuk setelah menggigit orang dengan demam berdarah dengue (DBD) lalu berkembang biak. Sebagian besar virusnya terdapat di kelenjar air liur nyamuk. Ketika nyamuk menggigit orang lain maka virus akan masuk ke dalam aliran darah orang tersebut. Masa inkubasi (masa saat terinfeksi sampai menimbulkan gejala DD) selama 4 - 6 hari. Orang ini bisa menunjukkan gejala sakit, tetapi bisa juga tidak jika memiliki kekebalan yang cukup.

 

 

Demam dengue disebabkan oleh virus grup B arthropod borne virus, genus flavivirus, famili flaviviridae mempunyai 4 serotipe berbeda. Infeksi terhadap salah satu serotipe akan memberikan imunitas / antibodi seumur hidup, tetapi tidak terhadap serotipe yang lainnya. Apabila seseorang terinfeksi berulang oleh serotipe lain, maka akan memberikan gejala yang lebih berat yaitu dengue haemorrhagic fever atau dengue shock syndrome bahkan bila terinfeksi 20 tahun yang akan datang.

Demam dengue merupakan demam akut selama 2 sampai 7 hari, dengan beberapa gejala seperti:

  1. Nyeri kepala, nyeri retrorbital (belakang mata)
  2. Mialgia (nyeri otot dan sendi)
  3. Ruam kulit (kulit kemerahan)
  4. Leukopenia (rendahnya sel darah putih).

Dalam perjalanannya DD akan menjadi demam berdarah dengue dengan beberapa manifestasi:

  1. Uji bendung lengan atas (tourniquet) nilai +
  2. Perdarahan mukosa (mimisan, gusi berdarah)
  3. Petekie (perdarahan bawah kulit)
  4. Trombositopenia (trombosit < 100.000/mm3)
  5. Hematokrit > 20% dibandingkan standar atau < 20% setelah pemberian cairan.

Lalu akan disusul dengan sindrom syok dengue yang ditandai dengan nadi yang lemah dan cepat, tekanan darah turun, kulit dingin dan lembab, gelisah.

Bagaimana Bila Terjadi Pada Ibu Hamil Dok?

Dalam kehamilan, baik gejala demam dengue, demam berdarah dengue dan sindrom syok dengue memberikan efek yang sama seperti orang tidak hamil. Walaupun gejala yang timbul sama, tetapi harus mendapatkan perhatian yang ekstra terhadap ibu hamil. Mengingat kehamilan memberikan perubahan – perubahan fisiologis terhadap tubuh serta hadirnya janin dalam kandungan yang mempunyai potensi mengalami komplikasi.

Terjadinya anemia fisiologis, hematokrit pada ibu hamil dapat mencapai nilai 34% (nilai normal pada yang tidak hamil 37%-47%) hal ini terjadi secara logis pada kehamilan. Kondisi cairan ibu hamil harus diperhatikan karena dalam DBD terjadi perembesan cairan keluar dari pembuluh darah, jangan sampai terjadi dehidrasi yang juga akan berdampak terhadap janinnya. Trombosit yang rendah berkaitan dengan proses kelahiran yang menyebabkan perdarahan postpartum (pasca melahirkan).

Komplikasi terhadap janin juga terjadi. Komplikasi ini terjadi apabila ibu hamil terinfeksi pada trimester pertama dan trimester ketiga atau akhir. Demam berdarah dengue menurut beberapa laporan penelitian, menunjukkan terjadinya peningkatan kelahiran prematur, keguguran, berat badan janin yang rendah, atau kematian janin. Adapun kelainan cacat bawaan tidak terjadi karena virus DBD bersifat RNA. Penyebaran virus melalui plasenta terjadi terutama saat trimester ketiga, karena kurangnya perlindungan antibodi serta viremia dari ibu. Penyebaran ini menyebabkan infeksi pada neonatus (bayi baru lahir).

Mari Kita Cegah

Upaya preventif atau pencegahan menjadi hal yang utama dalam menurunkan kejadian DBD dan menghindari segala komplikasi DBD. Banyak hal yang dapat kita lakukan. Kita pernah mendengar upaya  “3M“ yaitu Menutup, Menguras dan Menimbun. Bahkan sekarang sudah berkembang menjadi “3M plus” yaitu menutup, menguras, menimbun plus memelihara ikan pemakan jentik, menabur bubuk abate, menggunakan kelambu waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk. Ini merupakan usaha yang sederhana tetapi memberikan efek yang sehat dan luas dalam pencegahan terjadinya DBD. Dan bagi ibu hamil disarankan agar tidak melakukan perjalanan keluar kota terutama di daerah yang rawan DBD.

Sekarang tinggal bagaimana kita sebagai masyarakat yang cinta lingkungan sehat mau menerapkan pola hidup yang sehat, yang pasti  memberikan dampak sehat tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga terhadap orang lain disekitar kita.

Last Updated on Wednesday, 11 April 2012 06:22
 
  • olalababy.jpg
  • thermometer 2.jpg