You are here:

Home Section Blog Current Users Permasalahan dalam Pemberian Makanan Pendamping ASI
Permasalahan dalam Pemberian Makanan Pendamping ASI PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 23 December 2009 07:07

Dari hasil beberapa penelitian menyatakan bahwa keadaan kurang gizi pada bayi dan anak disebabkan karena kebiasaan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tidak tepat. Keadaan ini memerlukan penanganan tidak hanya dengan penyediaan pangan, tetapi dengan pendekatan yang lebih komunikatif sesuai dengan tingkat pendidikan dan kemampuan masyarakat. Selain itu, ibu-ibu kurang menyadari bahwa setelah bayi berumur 4 - 6 bulan memerlukan MP-ASI dalam jumlah dan mutu yang semakin bertambah, sesuai dengan pertambahan umur bayi dan kemampuan alat cernanya. Beberapa permasalahan dalam pemberian makanan bayi / anak umur 0 - 24 bulan:

 

  1. Pemberian Makanan Pralaktal (Makanan sebelum ASI keluar). Makanan pralaktal adalah jenis makanan seperti air kelapa, air tajin, air teh, madu, pisang yang diberikan kepada bayi yang baru lahir sebelum ASI keluar. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi dan mengganggu keberhasilan menyusui.
  2. Kolostrum dibuang. Kolostrum adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama, kental dan berwarna kekuningan. Masih banyak ibu-ibu yang tidak memberikan kolostrum kepada bayinya. Kolostrum mengandung zat kekebalan yang dapat melindungi bayi dari penyakit dan mengandung zat gizi tinggi. Oleh karena itu, kolostrum jangan dibuang.
  3. Pemberian MP-ASI terlalu dini atau terlambat. Pemberian MP-ASI yang terlalu dini (sebelum bayi berumur 4 bulan) menurunkan konsumsi ASI dan menyebabkan gangguan pencernaan atau diare. Sedangkan jika pemberian MP-ASI terlambat (lewat usia 6 bulan), dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan anak.
  4. MP-ASI yang diberikan tidak cukup. Pemberian MP-ASI pada periode umur 4 - 24 bulan sering tidak tepat dan tidak cukup baik kualitas maupun kuantitasnya. Adanya kepercayaan bahwa anak tidak boleh makan ikan dan kebiasaan tidak menggunakan santan atau minyak pada makanan anak, dapat menyebabkan anak menderita kurang gizi terutama energi dan protein serta beberapa vitamin yang larut dalam lemak.
  5. Pemberian MP-ASI sebelum ASI. Pada usia 4 - 6 bulan, pemberian ASI yang dilakukan sesudah MP-ASI dapat menyebabkan ASI kurang dikonsumsi. Pada periode ini, zat-zat yang diperlukan bayi terutama diperoleh dari ASI menurun. Dengan memberikan MP-ASI terlebih dahulu berarti kemampuan bayi untuk mengkonsumsi ASI berkurang. Hal ini dapat menyebabkan anak menderita kurang gizi. Sebaiknya ASI diberikan terlebih dahulu, baru MP-ASI.
  6. Frekuensi pemberian MP-ASI kurang. Frekuensi pemberian MP-ASI dalam sehari kurang akan berakibat kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi.
  7. Pemberian ASI terhenti karena ibu kembali bekerja. Di daerah kota dan semi perkotaan, ada kecenderungan rendahnya frekuensi menyusui dan ASI dihentikan terlalu dini pada ibu-ibu bekerja kaena ibu sibuk. Hal ini menyebabkan konsumsi zat gizi rendah apalagi kalau pemberian MP-ASI pada anak kurang diperhatikan.
  8. Kebersihan kurang terjaga. Pada umumnya, ibu kurang menjaga kebersihan terutama pada saat menyiapkan dan memberikan makanan pada anak. Masih banyak yang menyiapkan makanan matang tanpa tudung saji dan kurang mengamati perilaku pengasuh anaknya ketika memberikan makan. Hal ini dapat menyebabkan diare atau mencret.

 

Last Updated on Thursday, 24 December 2009 04:31
 
  • olalababy.jpg
  • thermometer 2.jpg