You are here:

Home The News Kok, Cegukan terus, sih?
Kok, Cegukan terus, sih? PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 11 October 2013 00:00

Duh kasihan sekali, si kecil sebentar-sebentar cegukan. Mau tahu penanganannya?

Secara fisiologis cegukan merupakan kontraksi atau "kedutan" pada otot-otot diafragma yang terjadi secara berulang-ulang dan tanpa bisa dikontrol. kontraksi yang terjadi pada sekat pipih yang berfungsi membatasi rongga dada dan rongga perut ini menyebabkan pita suara di tenggorokan menutup secara tiba-tiba. Akibatnya, udara yang hendak menuju paru-paru jadi terhambat dan menimbulkan suara ceguk-ceguk yang mengkhawatirkan di telinga orang tua.

Terjadinya kontraksi otot-otot diafragma yang dikendalikan oleh saraf otak kesepuluh ini, biasanya akibat adanya rangsangan atau dorongan dari saluran cerna. Antara lain:

  • Kemasukan udara saat menyusu pada ibu atau minum susu dari botol dengan posisi yang salah.
  • Karena perut bayi kelewat penuh dengan makanan.
  • Karena si kecil terlalu bersemangat, tertawa keras dan kemasukan udara.
  • Anak kedinginan, misalnya sehabis mandi. Akan tetapi bagaimana persisnya kaitan antara dingin dan mekanisme cegukan belum diketahui pasti. Diduga karena semakin membukanya paru-paru agar kebutuhan udara tercukupi sekaligus menstabilkan suhu tubuh terhadap kondisi dingin di skitter

Umumnya..

Cegukan lebih sering terjadi pada bayi-bayi baru lahir hingga usia 3 bulanan. Tak lain karena, pada usia tersebut, organ-organ tubuhnya belum matang sehingga belum berfungsi secara sempurna. Itulah mengapa cegukan lebih sering dialami bayi-bayi prematur dibandingkan bayi-bayi yang cukup bulan. Bahkan sebetulnya, cegukan telah dimulai sejak masa janin. Tak jarang suara cegukan ini bisa terdengar oleh sang ibu yang mengandungnya. Semasa janin, cegukan pada dasarnya merupakan latihan bagi janin untuk mengembangkan kemampuannya untuk bernafas dengan paru-paru. Biasanya semakin besar usia bayi, cegukan akan semakin jarang terjadi. Namun dibandingkan dengan anak-anak dan orang dewasa, bayi lebih sering mengalami cegukan. Hal ini berkaitan erat dengan asupan oksigen yang diperlukan oleh tubuh dan kemampuan sel-sel Alveoli paru-parunya untuk menghisap udara. Lazimnya, cegukan terjadi selama beberapa detik saja dan bisa berulang setiap 1/2 menit sekali. Biasanya akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 5-10 menit kemudian tanpa penanganan apapun.

Tapi...

Jika cegukan berlangsung selama berjam-jam secara terus menerus sehingga membuat bayi tidak bisa tidur dan menyusu, maka cegukan ini harus diwaspadai. Meski angka kejadiannya sangat sedikit, bisa saja cegukan seperti ini terjadi karena adanya kelainan saluran cerna atau bahkan gagal ginjal. Cegukan yang seperti ini tentunya harus mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Jadi, selama cegukan tak berlangsung lama, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Cegukan model ini tidak akan berdampak pada kesehatan maupun perkembangannya. Bayi sendiri tidak merasakan keluhan apa-apa.

Penanganan Tepat untuk mengatasi cegukan.

Untuk mengurangi kekhawatiran pada orang tua, berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua dalam mengatasi cegukan:

  1. Cari tahu penyebabnya - Perhatikankapan cegukan terjadi, apakah sesudah makan/minum, sehabis tertawa terbahak-bahak dan sebagainya. Yang jelas, cegukan tidak mengenal siang dan malam. Bila telah diketahui pasti cegukan terjadi karena bayi kekenyangan, atur porsi makan dalam jumlah sedikit tapi dengan intensitas lebih sering. Jangan terpaku pada target si kecil harus minum susu sekian mililiter dalam sehari. Perhatikan betul kebutuhan masing-masing bayi yang tidak bisa disamaratakan. Jangan cekoki bayi terus menerus dengan susu/makanan yang membuatnya kekenyangan.
  2. Diamkan saja - Jika cegukan berlangsung lebih dari 5 menit, susui si kecil. Bila sudah lepas ASI, dapat diberikan air hangat. Refleks menelan dapat membantu menghentikan cegukan.
  3. Tepuk-tepuk punggung bayi - Sandarkan bayi tegak di bahu dan tepuk-tepuk punggungnya dengan lembut, seperti ketika ingin menyendawakannya. Soalnya, sebagian bayi memang menelan lebih banyak udara ketika minum ASI atau susu formula. Terlalu banyak menelan udara ini akan meregangkan lambung yang memicu cegukan. Beberapa tepukan lembut dapat mendorong udara ke atas dan menghentikan cegukan.
  4. Posisi menyusui harus benar - Perhatikan betul posisi saat menyusui, yakni harus setengah duduk, bukan sambil tiduran karena akan membuat bayi menelan lebih banyak udara. Begitupun saat bayi menyusui menggunakan botol. Bayi dapat menelan terlalu banyak udara dan mengalami cegukan apabila posisi botol susu tidak tepat. Pastikan posisi botol susu 45 Derajat, sehingga kecil kemungkinan ada udara yang ikut terisap.
  5. Cek dot bayi - Jika ukuran lubang dot ukurannya kebesaran atau kekecilan, bayi pun akan menelan terlalu banyak udara dan menyebabkan cegukan. Untuk mengetahui pas atau tidaknya ukuran dot, pastikan botol tegak lurus dalam keadaan terbalik. Bila diameternya lubangnya tepat, susu akan menetes secara berirama kembali. Sedangkan jika diameternya terlalu besar, susu akan menetes terus tanpa henti. Sementara kalau lubangnya terlalu kecil, susu tidak akan menetes keluar.
  6. Konsultasikan ke dokter - Bila cegukan berlangsung lama atau sampai berjam-jam, segera konsultasikan ke dokter agar dapat diketahui penyebab pastinya dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Last Updated on Friday, 11 October 2013 06:10
 
  • olalababy.jpg
  • thermometer 2.jpg